Minggu, 27 November 2011

Soal pacaran di zaman sekarang tampaknya menjadi gejala umum di kalangan kawula muda. Barangkali fenomena ini sebagai akibat dari pengaruh kisah-kisah percintaan dalam roman, novel, film dan syair lagu. Sehingga terkesan bahwa hidup di masa remaja memang harus ditaburi dengan bunga-bunga percintaan, kisah-kisah asmara, harus ada pasangan tetap sebagai tempat untuk bertukar cerita dan berbagi rasa.

Selama ini tempaknya belum ada pengertian baku tentang pacaran. Namun setidak-tidaknya di dalamnya akan ada suatu bentuk pergaulan antara laki-laki dan wanita tanpa nikah.

Kalau ditinjau lebih jauh sebenarnya pacaran menjadi bagian dari kultur Barat. Sebab biasanya masyarakat Barat mensahkan adanya fase-fase hubungan hetero seksual dalam kehidupan manusia sebelum menikah seperti puppy love (cinta monyet), datang (kencan), going steady (pacaran), dan engagement (tunangan).

Bagaimanapun mereka yang berpacaran, jika kebebasan seksual da lam pacaran diartikan sebagai hubungan suami-istri, maka dengan tegas mereka menolak. Namun, tidaklah demikian jika diartikan sebagai ungkapan rasa kasih sayang dan cinta, sebagai alat untuk memilih pasangan hidup. Akan tetapi kenyataannya, orang berpacaran akan sulit segi mudharatnya ketimbang maslahatnya. Satu contoh : orang berpacaran cenderung mengenang dianya. Waktu luangnya (misalnya bagi mahasiswa) banyak terisi hal-hal semacam melamun atau berfantasi. Amanah untuk belajar terkurangi atau bahkan terbengkalai. Biasanya mahasiswa masih mendapat kiriman dari orang tua. Apakah uang kiriman untuk hidup dan membeli buku tidak terserap untuk pacaran itu ?

Atas dasar itulah ulama memandang, bahwa pacaran model begini adalah kedhaliman atas amanah orang tua. Secara sosio kultural di kalangan masyarakat agamis, pacaran akan mengundang fitnah, bahkan tergolong naif. Mau tidak mau, orang yang berpacaran sedikit demi sedikit akan terkikis peresapan ke-Islam-an dalam hatinya, bahkan bisa mengakibatkan kehancuran moral dan akhlak. Na’udzubillah min dzalik !

Sudah banyak gambaran kehancuran moral akibat pacaran, atau pergaulan bebas yang telah terjadi akibat science dan peradaban modern (westernisasi). Islam sendiri sebagai penyempurnaan dien-dien tidak kalah canggihnya memberi penjelasan mengenai berpacaran. Pacaran menurut Islam diidentikkan sebagai apa yang dilontarkan Rasulullah SAW : "Apabila seorang di antara kamu meminang seorang wanita, andaikata dia dapat melihat wanita yang akan dipinangnya, maka lihatlah." (HR Ahmad dan Abu Daud).

Namun Islam juga, jelas-jelas menyatakan bahwa berpacaran bukan jalan yang diridhai Allah, karena banyak segi mudharatnya. Setiap orang yang berpacaran cenderung untuk bertemu, duduk, pergi bergaul berdua. Ini jelas pelanggaran syari’at ! Terhadap larangan melihat atau bergaul bukan muhrim atau bukan istrinya. Sebagaimana yang tercantum dalam HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas yang artinya: "Janganlah salah seorang di antara kamu bersepi-sepi (berkhalwat) dengan seorang wanita, kecuali bersama dengan muhrimnya." Tabrani dan Al-Hakim dari Hudzaifah juga meriwayatkan dalam hadits yang lain: "Lirikan mata merupakan anak panah yang beracun dari setan, barang siapa meninggalkan karena takut kepada-Ku, maka Aku akan menggantikannya dengan iman sempurna hingga ia dapat merasakan arti kemanisannya dalam hati."

Tapi mungkin juga ada di antara mereka yang mencoba "berdalih" dengan mengemukakan argumen berdasar kepada sebuah hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Imam Abu Daud berikut : "Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, atawa memberi karena Allah, dan tidak mau memberi karena Allah, maka sungguh orang itu telah menyempurnakan imannya." Tarohlah mereka itu adalah orang-orang yang mempunyai tali iman yang kokoh, yang nggak bakalan terjerumus (terlalu) jauh dalam mengarungi "dunia berpacaran" mereka. Tapi kita juga berhak bertanya : sejauh manakah mereka dapat mengendalikan kemudi "perahu pacaran" itu ? Dan jika kita kembalikan lagi kepada hadits yang telah mereka kemukakan itu, bahwa barang siapa yang mencintai karena Allah adalah salah satu aspek penyempurna keimanan seseorang, lalu benarkah mereka itu mencintai satu sama lainnya benar-benar karena Allah ? Dan bagaimana mereka merealisasikan "mencintai karena Allah" tersebut ? Kalau (misalnya) ada acara bonceng-boncengan, dua-duaan, atau bahkan sampai buka aurat (dalam arti semestinya selain wajah dan dua tapak tangan) bagi si cewek, atau yang lain-lainnya, apakah itu bisa dikategorikan sebagai "mencintai karena Allah ?" Jawabnya jelas tidak !

Dalam kaitan ini peran orang tua sangat penting dalam mengawasi pergaulan anak-anaknya terutama yang lebih menjurus kepada pergaulan dengan lain jenis. Adalah suatu keteledoran jika orang tua membiarkan anak-anaknya bergaul bebas dengan bukan muhrimnya. Oleh karena itu sikap yang bijak bagi orang tua kalau melihat anaknya sudah saatnya untuk menikah, adalah segera saja laksanakan.

Dikutip dari: http://www.google.com/bpost/012000/24/opini/resensi.htm

Selasa, 19 Januari 2010

Banyak jalan yang dapat diraih untuk menyalurkan prestasi yang kita miliki. Sehingga sebuah prestasi tersebut tidak hanya monoton dalam segi akademis saja, namun prestasi non akademis juga dapat kita kembangkan.
Bagi teman-teman yang memiliki prestasi atau memiliki keunggulan baik dalam olahraga, seni serta kelebihan yang lain maka kembangkanlah, siapa tahu dari prestasi tersebut dapat membesarkan nama kita.
Meski demikian, banyak orang mengira bahwa suatu prestasi akademis akan lebih bergengsi dibandingkan dengan nonakademis. Untuk menghilangkan anggapan tersebut telah menggugah nurani seorang murid Sekolah Menengah Pertama (SMP) Al-Azhar Syifa Budi Surakarta, Athallariq Irawan Putra untuk mengembangkan prestasi di bidang nonakademis.
“Kebetulan saya sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) memiliki hobi karate. Lalu saya mencoba untuk mengembangkan hobi saya tersebut,” ucap laki-laki yang kerap disapa Arqi saat ditemui Joglosemar beberapa waktu yang lalu.
Keinginan Arqi untuk menjadi atlit karate pun semakin besar, bahkan dalam setiap minggunya, Arqi mengikuti latihan karate sebanyak tiga kali. Hal tersebut dilakukannya karena keinginannya untuk menjadi atlet yang andal.
“Saya tidak pengin jadi orang yang biasa-biasa saja, makanya saya ingin ada sesuatu dari diri saya yang dibanggakan,” imbuhnya.
Selain itu, motivasi lain Arqi untuk menekuni karate supaya dapat menguasai ilmu bela diri. “Jadi kalau dinakali orang di jalan dapat membela diri,” tegas Arqi yang kini juga menjabat sebagai ketua umum Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMP Al-Azhar Syifa Budi Surakarta.
Dari itulah, Arqi sering mendapatkan kepercayaan dari pihak sekolah untuk mengikuti berbagai perlombaan yang sesuai dengan bidangnya yaitu karate. Berbagai kejuaraan telah diraihnya.
Di antaranya adalah juara I tingkat nasional yang digelar di Yogyakarta bulan kemarin Arqi menyabet dua kejuaraan sekaligus. Yaitu juara karate SMP kategori -40 Kg serta juara I dalam kategori kata beregu. Bahkan pada tanggal 3 Desember kemarin, Arqi juga berhasil meraih juara III karate antarpelajar SMP di Semarang.
“Banyak hal yang saya dapatkan dari menekuni dunia karate, karena selain tubuh sehat karena juga sebagai olahraga, saya juga menjadi sosok yang pemberani,” terangnya.